c

Keunikan yang ditawarkan Dieng

Dataran Tinggi Dieng menawarkan banyak keunikan yang sulit ditemukan di tempat-tempat lain di Indonesia. Apa saja keunikan-keunikan yang dimiliki oleh Dieng?

Daratan tinggi terluas kedua yang dihuni manusia setelah Tibet

Beberapa artikel menyebut Dataran Tinggi Dieng sebagai Dataran Tinggi (plateau/plato) terluas kedua yang dihuni oleh manusia setelah Tibet. Gelar tersebut dirasa pantas diraih Dieng karena memang banyak manusia yang menetap dan membangun kehidupannya di daerah yang tergolong terpencil tersebut.

Dataran tinggi yang terletak di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut ini dihuni masyarakat yang kebanyakan berprofesi sebagai petani sayuran dan buah. Penduduk terdahulu mengubah lahan-lahan yang tadinya tak berpemilik menjadi “tambang emas” mereka dengan menanami kentang, kubis, wortel dan sayuran lainnya. Dan sampai sekarang, Dieng menjadi tempat hidup dan menghidupkan ekonomi bagi “wong gunung” tersebut.

Ada salju di Dieng. Tidak percaya?

Karena berada di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut pastinya membuat suhu di Dataran Tinggi Dieng sangat menusuk tulang. Jika kamu sedang berada di dalam rumah di sana dan kamu menginjakkan kakimu di lantai keramik tanpa alas kaki, kamu akan merasa seperti menginjak sebongkah es batu berukuran raksasa.

Pada bulan Juli – Agustus, suhu pagi hari di Dieng bisa sangat rendah. Tercatat pada bulan Juli 2015, suhu turun sampai ke angka minus 1 derajat Celcius dan di siang hari bersuhu 10 – 15 derajat Celcius. Suhu rendah di pagi hari memunculkan embun beku atau frost yang oleh penduduk lokal sering disebut sebagai bun upas.

Bocah berambut gimbal itu bukan fans berat Reggae. Mereka bocah Istimewa!

Rambut gimbal atau dreadlock umumnya identik dengan anak Reggae. Tapi bagi beberapa anak di Dataran Tinggi Dieng, rambut gimbal mereka bukan karena menjadi fans berat musik Reggae. Rambut gimbal mereka tumbuh alami dan dipercaya sudah ada sejak jaman dahulu.

Anak-anak di Dataran Tinggi Dieng yang mempunyai rambut gimbal adalah anak yang tergolong diistimewakan. Bagaimana tidak, rambut gimbal mereka harus dipotong jika si anak sudah menyatakan keinginannya untuk potong rambut. Jika tidak meminta, tentu saja sangat tidak diperbolehkan. Ketika rambut si anak sudah dipotong, ia akan memiliki rambut normal seperti anak pada umumya.

Memotong rambut gimbal pun tidak boleh sembarangan. Harus ada ritual atau upacara khusus (ruwatan) jika tidak ingin anak tersebut jatuh sakit. Pada pagi hari sebelum ritual, biasanya orang tua akan menanyakan apa saja keinginan anak dan sang orang tua harus bisa memenuhinya. Jika tidak, ritual harus ditunda.

Desa tertinggi di pulau Jawa ada di Dieng. Desa Sembungan, benar-benar desa di atas awan!

Salah satu keunikan lainnya yang dimiliki oleh Dataran Tinggi Dieng adalah keberadaan desa tertinggi di pulau Jawa. Inilah dia Desa Sembungan. Desa yang terletak di ketinggian 2.100 meter di atas permukaan laut dipercaya sebagai cikal bakal dimulainya kehidupan bermasyarakat di Dataran Tinggi Dieng. Orang-orang terdahulu datang dan menetap di desa tersebut dan kemudian menyebar ke daerah-daerah di sekitar dan membentuk desa-desa baru.

Desa Sembungan kini dihuni sekitar 1.300 jiwa yang mayoritas berprofesi sebagai petani sayuran dan buah papaya gunung (Carica). Desa ini menjadi sangat indah karena keberadaan sebuah telaga bernama Telaga Cebong yang dikelilingi bukit yang berhiaskan hijaunya areal perkebunan sayuran warga. Akhir-akhir ini, desa ini menjadi sangat terkenal karena menjadi akses utama menuju Gunung Sikunir, spot terbaik untuk melihat golden sunrise di Dieng.

Desa ini tidak terlalu sulit untuk dijangkau, yaitu berjarak sekitar 7 kilometer dari pusat wisata Dataran Tinggi Dieng. Jalanan yang sudah di aspal cukup baik akan memudahkanmu untuk berkunjung dan bercengkrama dengan para penduduk desa tertinggi yang sangat ramah tersebut.

Ada buah yang hanya bisa tumbuh di Dataran Tinggi Dieng dan Pegunungan Andes. Inilah Carica! Buah para Dewa

Carica berasal dari Pegunungan Andes di Amerika Selatan. Menurut beberapa sumber, buah ini dibawa pada masa menjelang Perang Dunia II oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, dan berhasil dibudidayakan di Dataran Tinggi Dieng. Banyak orang menyebutnya buah para Dewa karena buah ini hanya bisa tumbuh di ketinggian mulai dari 1.500-3.000 meter di atas permukaan laut. Saking tingginya mungkin para Dewa pun bisa dengan mudah meraihnya.

Buah Carica berbentuk seperti papaya namun berukuran kecil seukuran mangga dan berkulit kuning keemasan. Aroma buah ini sangatlah wangi dan menggiurkan. Daging buah ini jika dimakan mentah akan terasa sepat, tidak seperti buah papaya pada umumnya. Penduduk lokal biasanya mengolah buah ini menjadi manisan dalam botol, keripik, dodol dan sirup. Dan karena rasanya yang lezat, harum, kenyal dan aman dikonsumsi, buah ini banyak diburu oleh wisatawan yang datang ke Dataran Tinggi Dieng. Penasaran rasanya buah “para dewa” ini?

Dieng menyuguhkan Totally Unlimited Adventure; Kawah, telaga, gua, candi, gunung, wisata kuliner, semuanya ada!

Dataran Tinggi Dieng benar-benar menawarkan paket petualangan yang sangat lengkap! Petualanganmu di Dieng bisa dimulai dengan munyusuri keindahan gunung-gunung yang ada di sana. Dieng memang tidak lepas dari keberadaan gunung-gunung di sekitarnya yang memberikan pemandangan yang sangat indah.

Dan jika kamu lelah berpetualang kebanyak tempat tersebut dan merasa sangat lapar, Dieng juga menyajikan makanan khas yang akan menggugah selera makanmu. Tutup harimu dengan meminum secangkir Teh Tambi, teh asli Wonosobo, yang panas dan kental, makan Mie Ongklok dengan Tempe Kemul dan sate sapi dan ditutup dengan manisan Carica yang segar. Petualanganmu di Dataran Tinggi Dieng terasa tak terlupakan!

LEAVE COMMENT

SEO Powered by Platinum SEO from Techblissonline